Konsep, Fungsi, dan Syarat Harga Dalam Perspektif Syari'ah
1. Definisi Harga
Ibnu Taimiyah Mendefinisikan harga yang adil (Tsaman al-Mitsl) sebagai harga standar yang berlaku di masyarakat secara wajar tanpa unsur kezaliman, spekulasi, atau distorsi pasar. Ia menyatakan bahwa harga terbentuk secara alami melalui kekuatan penawaran dan permintaan (supply and demand).
2. Landasan Syariat Ketetapan Harga
Islam pada dasarnya menjunjung tinggi kebebasan pasar yang sehat dan adil. Prinsip utamanya adalah keridaan kedua belah pihak, sebagaimana firman Allah SWT dalam
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا ٢٩
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ ta'kulû amwâlakum bainakum bil-bâthili illâ an takûna tijâratan ‘an tarâdlim mingkum, wa lâ taqtulû anfusakum, innallâha kâna bikum raḫîmâ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang batil (tidak benar), kecuali berupa perniagaan atas dasar suka sama suka di antara kamu. Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (Q.S. An - Nisa 29)
Mengenai intervensi harga, Rasulullah SAW melarang pembatasan harga secara sewenang-wenang oleh otoritas selama pasar berjalan normal. Dalam hadits riwayat Anas bin Malik RA, ketika harga barang melonjak di Madinah dan para sahabat meminta Rasulullah untuk menetapkan harga, beliau bersabda:
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، أَخْبَرَنَا ثَابِتٌ، عَنْ أَنَسٍ، وَقَتَادَةُ، وَحُمَيْدٌ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ قَالَ النَّاسُ يَا رَسُولَ اللَّهِ غَلاَ السِّعْرُ فَسَعِّرْ لَنَا . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّازِقُ وَإِنِّي لأَرْجُو أَنْ أَلْقَى اللَّهَ وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يُطَالِبُنِي بِمَظْلَمَةٍ فِي دَمٍ وَلاَ مَالٍ
“Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi Shaibah, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, telah memberitakan kepada kami Thabit, dari Anas, dan Qatadah, dan Humayd, dari Anas, berkata: Orang-orang berkata: Wahai Rasulullah, harga telah melambung, maka tetapkanlah harga untuk kami. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah adalah Yang Menetapkan Harga, Yang Menahan, Yang Melapangkan, dan Yang Memberi Rizki, dan aku berharap ketika aku bertemu Allah, tidak ada seorang pun di antara kalian yang menuntutku karena suatu kezaliman terkait darah atau harta." (HR. Abu Dawud no. 3451)
3. Syarat Sah Harga
Agar suatu akad jual beli dinilai sah, harga yang ditetapkan harus memenuhi syarat-syarat berikut:
a. Jelas kualitas dan kuantitasnya (Ma’lum): Nominal, mata uang, atau jenis alat tukar harus pasti sejak awal akad untuk menghindari gharar (ketidakpastian) yang dapat memicu perselisihan.
b. Suci dan bermanfaat menurut syariat: Alat tukar yang digunakan tidak boleh berupa barang yang diharamkan zatnya (seperti khamar, babi, atau bangkai).
c. Mampu diserahkan: Pembeli harus memiliki kemampuan riil untuk menyerahkan uang atau alat bayar tersebut kepada penjual.
Komentar
Posting Komentar